Kolom OPINI
Ketegangan Iran-AS: Panggung Sandiwara atau Ambang Perang?
Oleh: Inayatullah A. Hasyim
Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI
Pada pekan terakhir Januari 2026, Timur Tengah sekali lagi menggenggam bola api. Kehadiran kapal induk AS USS Abraham Lincoln dan armada pendukungnya di perairan Teluk, disusul oleh kedatangan puluhan pesawat tempur F-15 dan pesawat pengisian bahan bakar ke pangkalan-pangkalan AS di wilayah itu, bukanlah sekadar rotasi pasukan biasa. Ini adalah panggung yang disiapkan untuk sebuah sandiwara tekanan (coercive diplomacy) skala besar, dengan Donald Trump sebagai sutradara utama dan Iran sebagai lawan utama yang dipojokkan.
Presiden AS itu dengan terbuka memamerkan “armada besar” yang sedang menuju Iran, sambil secara paradoks tetap mengulurkan tangan untuk negosiasi — tentu saja dengan ultimatum bahwa “serangan berikutnya akan jauh lebih buruk!” jika Tehran tidak segera “datang ke meja perundingan”. Dalam pidatonya di Iowa, Trump bahkan menyebut armada itu dengan nada sinis sebagai “armada indah”. Retorika ini adalah senjata itu sendiri: sebuah upaya untuk menaklukkan tanpa pertempuran, memaksa Iran menyerah di bawah bayang-bayang kekuatan yang terpampang nyata.
Namun, di balik panggung sandiwara militer ini, ada sebuah pertaruhan strategis yang jauh lebih kompleks, melibatkan kepentingan internal AS dan Israel, kelemahan domestik Iran, serta keinginan kuat negara-negara Arab untuk menghindari perang yang akan membakar kawasan.
Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan Trump?
Pertanyaannya bukan apakah AS memiliki kemampuan untuk menyerang Iran. Mereka sudah membuktikannya pada Juni 2025 dalam “Operasi Midnight Hammer”, di mana lebih dari 100 pesawat, termasuk pembom siluman B-2, menghancurkan fasilitas nuklir Iran tanpa satu pun kerugian pesawat. Pertanyaannya adalah, apa tujuan sebenarnya dari pengerahan kekuatan masif kali ini?
Para analis militer seperti Matthew Savill dari RUSI melihat beberapa opsi target AS: dari kemampuan rudal balistik Iran, hingga pusat-pusat komando Korps Pengawal Revolusi (IRGC) yang diduga menindas protes. Namun, menargetkan kepemimpinan Iran secara langsung adalah langkah berisiko tinggi yang bisa memicu pembalasan tak terduga dan perang berkepanjangan — sebuah skenario yang diyakini tidak diinginkan Trump, yang lebih menyukai intervensi militer “singkat, tajam, dan terbatas”.
Dengan demikian, mobilisasi ini kemungkinan besar memiliki tujuan ganda. Pertama, sebagai tekanan maksimum untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan nuklir dengan syarat-syarat AS, terutama setelah laporan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) tentang cadangan uranium Iran yang semakin mengkhawatirkan. Kedua, dan mungkin yang lebih penting, adalah untuk mendukung posisi politik Trump domestik. Dengan menunjukkan “tindakan tegas” terhadap rezim yang kerap digambarkannya sebagai biang kerok di Timur Tengah, Trump memperkuat narasi keberanian dan diplomasi transaksionalnya di mata pendukungnya.
Kerapuhan Iran: Tekanan Eksternal Memperberat Krisis Internal
Sementara Trump bermain di panggung global, tanah Iran sendiri sedang bergetar. Gelombang protes yang dimulai akhir Desember 2025, dipicu oleh ekonomi yang ambruk — nilai tukar rial merosot tajam dan inflasi pangan melonjak di atas 70% — telah menyebar ke seluruh 31 provinsi. Rezim yang sudah lemah oleh sanksi internasional dan kerusakan akibat perang Juni 2025 kini menghadapi tantangan dari dalam.
Laporan dari dalam Iran mengungkapkan besarnya represi: ribuan orang ditangkap dan internet dibatasi untuk meredam informasi. Sebuah laporan bahkan menyebut angka korban tewas mencapai lebih dari 5.000 orang. Krisis ini telah melintasi batas kelas sosial, membuat posisi rezim “berada di titik paling rentan dalam sejarah modern Iran”. Ancaman eksternal dari Trump, dalam konteks ini, justru dapat dimanfaatkan oleh pemerintah Iran untuk menyatukan narasi nasional, menggambarkan diri sebagai korban agresi asing dan mengalihkan perhatian dari kegagalan ekonomi.
Peran Krusial Para Aktor Regional: Mencegah Perang
Di sinilah dinamika kawasan memainkan peran penahan yang paling penting. Pihak yang paling berkepentingan untuk mencegah perang AS-Iran bukanlah Washington atau Tehran, melainkan ibu kota-ibu kota Arab di sekitar Teluk. Mereka memahami betul bahwa konflik terbuka akan menyulut kawasan yang sudah rentan, mengancam infrastruktur energi vital mereka, dan memicu gelombang ketidakstabilan yang tak terkendali.
Sikap Arab Saudi sangatlah jelas dan tegas. Dalam panggilan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Putra Mahkota Mohammed bin Salman secara eksplisit menegaskan bahwa Kerajaan “tidak akan mengizinkan wilayah udara atau teritorinya digunakan untuk aksi militer apa pun terhadap Iran”. Pernyataan ini adalah tameng diplomatik yang sangat tegas terhadap kemungkinan penggunaan pangkalan Saudi oleh AS untuk menyerang Iran. Ini juga mencerminkan pergeseran strategis sejak normalisasi hubungan Saudi-Iran pada 2023: ancaman terhadap stabilitas kawasan kini tidak lagi dilihat semata-mata berasal dari Iran, tetapi juga dari kebijakan-kebijakan konfrontatif lainnya.
Negara-negara seperti Qatar, Mesir, dan Turki juga aktif membuka saluran komunikasi, mendorong solusi diplomatik. Upaya kolektif ini menciptakan jaringan pengaman yang membuat keputusan Trump untuk menyerang menjadi jauh lebih mahal secara politik, karena berarti mengabaikan kepentingan sekutu-sekutu regional kuncinya.
Israel dan Kalkulus yang Berubah
Israel, di bawah Netanyahu, berada dalam posisi yang rumit. Di satu sisi, ancaman6 eksistensial dari program nuklir Iran tetap menjadi mantra utama Netanyahu, yang baru-baru ini memperingatkan akan membalas dengan “kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya”. Namun, analisis dari RAND Corporation menunjukkan bahwa Israel saat ini memiliki alasan operasional untuk tidak terburu-buru memicu konflik baru. Pertahanan udara Israel, khususnya sistem Arrow, masih dalam proses pemulihan stok pencegat setelah perang Juni 2025. Selain itu, ancaman lebih langsung dari Hizbullah di perbatasan utara masih harus diselesaikan.
Tampaknya ada kesepakatan taktis sementara antara Israel dan Iran, dimediasi oleh negara-negara Teluk, untuk mencegah serangan AS kali ini. Namun, para analis memperingatkan bahwa “gencatan senjata” ini bersifat sementara. Begitu Israel merasa pertahanan udaranya pulih dan ancaman di utara terkendali, fokusnya akan kembali ke Iran, terutama jika ada indikasi bahwa Tehran terus membangun kembali kemampuan nuklir dan misilnya. Jendela serangan berikutnya bisa terbuka lebar, karena menurut mantan Presiden Iran Hassan Rouhani sendiri, “langit di Iran telah menjadi sangat aman bagi musuh” setelah kerusakan yang diderita.
Kesimpulan: Di Ambang yang Tajam
Situasi pada Januari 2026 adalah sebuah teater ketegangan dengan risiko nyata. Trump sedang memainkan permainan tekanan tinggi, menggunakan keunggulan militer AS yang tak terbantahkan sebagai palu godam diplomatik. Iran, yang terpojok baik secara internal maupun eksternal, bersikukuh tidak akan bernegosiasi di bawah ancaman, karena menurut keyakinan mereka, “berkompromi di bawah tekanan tidak meringankan tekanan itu, justru mengundang lebih banyak tekanan”.
Jatuhnya korban jiwa dalam protes di Iran yang sangat besar menunjukkan betapa rapuhnya rezim ini. Namun, sejarah menunjukkan bahwa tekanan eksternal sering kali justru memperkuat cengkeraman rezim otoriter, memungkinkan mereka mengonsolidasikan kekuasaan dengan dalih patriotik.
Pertahanan terkuat terhadap perang saat ini justru datang dari dalam kawasan itu sendiri. Sikap tegas Saudi dan upaya diplomasi negara-negara Arab lainnya adalah penyeimbang yang kritis terhadap ambisi unilateral Washington. Mereka bertindak atas nama kepentingan vital mereka sendiri: stabilitas.
Sandiwara ini belum berakhir. Kapal induk masih berlayar, ancaman masih dilontarkan, dan diplomat masih sibuk bekerja di belakang layar. Namun, dalam teater geopolitik, sandiwara terkadang bisa tanpa sengaja berubah menjadi kenyataan yang berdarah. Ketika kekuatan militer dikerahkan dalam skala seperti ini, risiko salah hitung, miskomunikasi, atau provokasi tak terduga selalu mengintai. Timur Tengah sekali lagi menari di tepi jurang, dan dunia menahan napas, berharap bahwa akal sehat dan diplomasi diam-diam akan mengalahkan logika konfrontasi.
Demikian.
Wallahua’lam Bish Showwab
